MON - FRI: 08:00 - 05:00 PM

Rujapa - Dita’s house - Surakarta

Rujapa - Dita’s house - Surakarta

Surakarta menjadi salah satu kota yang belakangan cukup pesat pembangunannya. Hal tersebut juga berimbas pada sektor hunian/rumah tinggal. Klien kami Ibu Dhita memiliki rumah di daerah Manahan yang sudah lama tidak di tempati. Rumah tersebut dulunya digunakan oleh orang tua beliau yang kini sudah pindah ke rumah lain. Manahan merupakan salah satu area yang cukup padat di Kota Surakarta. Rumah eksisting berada di komplek perumahan lama yang dekat dengan pembangunan gedung-gedung komersil yang menjulang tinggi. Sayangnya, kondisi rumah tersebut saat ini sudah tidak layak untuk dihuni, dikarenakan faktor usia bangunan dan beberapa utilitas yang sudah tidak berfungsi maksimal.

Melihat fakta tersebut, Ibu Dhita ingin merenovasi rumah yang ada untuk dapat berfungsi lagi dengan semestinya. Lokasi yang strategis tersebut menjadi suatu peluang yang baik untuk dijadikan rumah sewa. Awalnya rumah ini direncanakan untuk jadi 2 lantai. Namun mengingat keterbatasan budget, sehingga harus dibangun secara bertahap. Berangkat dari masalah inilah kemudian muncul konsep Rujapa (Rumah Jangka Panjang).

Pada tahap awal ini rumah harus dapat dihuni dengan kondisi 1 lantai. Namun, program ruang serta strukturnya sudah disiapkan untuk dapat berkembang menjadi 2 lantai. Hal tersebut terlihat dari penataan ruang yang fleksibel dengan banyaknya area tanpa sekat dinding massif. Bagian atap juga dirancang dengan luasan yang hampir sama dengan desain 2 lantainya, sehingga pada tahap pengembangan nanti, komponen penutup atap masih dapat digunakan kembali.  

Bila dilihat dari langgamnya, Rumah Ibu Dhita ini termasuk dalam Tropikal-Minimalis. Minimalis diterjemahkan pada minim nya penggunaan elemen tempelan seperti profil, cat beragam warna, ukiran, dan sebagainya. Rujapa dibuat dengan gubahan yang lebih sederhana, namun tetap berdiri elegan. Tropikal ditunjukkan dari hadirnya tritisan di setiap sisi yang merupakan respon terhadap iklim di negara kita. Selain itu bukaan juga dioptimalkan dengan sistem cross ventilation, sehingga udara dapat masuk dan mengurangi kelembaban dengan baik.

Rencana pengembangan 2 lantai memiliki total luas 174 m2. Sedangkan yang dibangun pada tahap awal adalah 105 m2 di atas lahan 180 m2. Dengan demikian, lantai bangunan hanya memakan 60% dari total lahan, sehingga masih memiliki area terbuka yang cukup luas dan sesuai dengan peraturan pemerintah setempat. Terdapat akses berupa jalur setapak ke area belakang yang membuat rumah tidak sepenuhnya menempel dengan batas lahan. Posisi kamar ditata dengan efisien, berjajar depan belakang, sehingga masing-masing kamar dapat akses udara dan cahaya langsung dari luar. Kamar dibuat tanpa kamar mandi dalam yang rawan lembab. Ruang-ruang komunal digabung menjadi satu ruang terbuka yang besar sehingga kegiatan menjadi lebih fleksibel dan lebih nyaman.